
Sepuluh tahun berlalu dan satu sekuel kemudian, Darkest Dungeon masih berdiri sebagai mahakarya roguelike RPG fantasi gelap yang menekan. Permainan ini, dengan gameplay Darkest Dungeon yang sarat ketegangan dan kecemasan, telah memikat banyak pemain, termasuk penulis, yang pertama kali diperkenalkan oleh seorang teman. Sebuah rekomendasi yang pada awalnya terasa seperti ‘kutukan’, namun kemudian berubah menjadi pengalaman bermain tak terlupakan yang terus digandrungi. Artikel ini terinspirasi dari ulasan di GameRant.
Awalnya, penulis merasa terbebani oleh Darkest Dungeon karena sudah memiliki cukup banyak tekanan dalam kehidupan kuliah. Namun, di tengah atmosfer yang mencekam dan puisi keputusasaan yang sunyi, pandangan penulis tentang game ini bergeser. Game ini bukan kutukan, melainkan salah satu pengalaman bermain game yang paling tak terlupakan, yang masih terus dimainkan bertahun-tahun kemudian.

31 Mod Terbaik untuk Darkest Dungeon
Ada banyak mod yang tersedia untuk menghidupkan Darkest Dungeon, beberapa hanya untuk estetika, sementara yang lain untuk membuat game yang sulit menjadi sedikit lebih mudah.
Roguelike RPG yang Mengejutkan Hati



Sebagai penulis GameRant dan pemain yang selalu ingin mencoba hal baru, penulis sering kali mencoba game di luar preferensi umum. Genre roguelike RPG adalah salah satunya. Dalam proses ini, beberapa game seperti Hades, Hades 2, PEAK, dan Balatro berhasil menarik perhatian.
Namun, tidak semua roguelike RPG cocok dengan selera penulis. Meskipun penulis bisa mentoleransi pengalaman yang sangat sulit, seperti Kingdom Come: Deliverance 2 dan Baldur’s Gate 3 yang merupakan beberapa judul favorit, gameplay Darkest Dungeon menawarkan nuansa ketidakpastian, keberuntungan, dan permadesth yang sering membuat frustrasi.

Critical Mass
Pilih game untuk menyeimbangkan rata-rata.
Scales
Hasil
Pilih game
Penulis menyukai RPG karena merupakan narrative-driven games yang berfokus pada karakter dan pengalaman sinematik. Penulis juga menyukai simulasi kehidupan (life-sims) di mana kontrol ada di tangan. Meskipun ada banyak alasan untuk tidak menyukai roguelike RPG, Darkest Dungeon entah bagaimana mampu memikat hati penulis.
- Aspek Estetika: Game ini memiliki arahan seni yang luar biasa, terasa seperti ukiran gotik yang dapat dimainkan. Garis tebal, bayangan yang menindas, dan animasi menghantui secara aktif memperkuat rasa takut yang ingin dirasakan pemain.
- Hamlet: Aspek membangun Hamlet ternyata memuaskan. Mengembangkan bangunan, mengelola sumber daya, dan melihat kota perlahan berevolusi memberikan kenyamanan aneh di tengah keputusasaan. Ini memberikan makna pada setiap ekspedisi yang gagal karena progres, entah bagaimana, akan tetap bertahan.
- DLC: Crimson Court adalah ekspansi yang memperdalam identitas game dengan menambahkan horor dan sistem baru yang terasa menghukum dan tak terlupakan. Ini adalah salah satu DLC yang rasanya sudah menjadi bagian dari game dasar.

Penggemar Darkest Dungeon dan Slay The Spire Tidak Boleh Melewatkan Deckbuilder Mendatang Ini
Steam memiliki banyak game Roguelikes atau Deckbuilders, tetapi kombinasi keduanya yang akan datang dari Wondernaut Studio menyajikan paket yang menarik.
Alasan Favorit Suka Darkest Dungeon yang Tidak Terkait Video Game
Koneksi penulis dengan Darkest Dungeon tidak sepenuhnya berakar pada dunia game. Ini sebenarnya terkait dengan Dungeons & Dragons. Penulis telah bermain dalam berbagai kampanye sejak tahun 2018, jadi ketika Darkest Dungeon diperkenalkan setahun kemudian, penulis tidak bisa tidak mengaitkannya dengan waktu bermain roleplaying dengan teman-teman di meja.

Meskipun mungkin terdengar aneh, manajemen daftar karakter langsung terasa akrab bagi penulis hanya karena D&D. Ada kelas-kelas yang mudah dikenali. Beberapa pahlawan menderita penyakit yang mengubah permainan, mirip dengan beberapa D&D campaigns favorit penulis di mana penulis dan teman-teman benar-benar berduka atas karakter yang dikenal secara intim. Seolah-olah penulis telah mengambil peran sebagai Dungeon Master saat bermain melalui berbagai dungeon. Sebagai pengawas atau DM, penulis memegang kendali begitu besar sehingga setiap keberhasilan terasa seperti kemenangan pribadi. Sebaliknya, kegagalan total tim di Darkest Dungeon terasa seperti kegagalan yang mendalam.
Darkest Dungeon: Game yang Ingin Dimainkan Lagi untuk Pertama Kali



Di awal usia dua puluhan, penulis berusaha mengejar games I had missed di masa remaja dan kanak-kanak, seperti Assassin’s Creed dan Mass Effect. Namun, Darkest Dungeon terasa berbeda; game ini baru rilis beberapa tahun sebelumnya, dan mengetahui “sihir gelapnya” membuat penulis merasa “tahu” untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama.
Ada banyak game yang ingin penulis mainkan lagi untuk pertama kalinya. Darkest Dungeon harus berada di urutan teratas daftar itu, hanya karena penulis ingin menghidupkan kembali versi game yang ada di benak. Ini adalah sebuah mahakarya roguelike RPG yang menawarkan pengalaman gameplay Darkest Dungeon yang tak tertandingi.
Berlangganan Newsletter untuk Insight Darkest Dungeon
2019. Malam Jumat. Penulis baru saja berusia 21 tahun. Itu kemungkinan besar hari yang sulit. Diagnosis kanker ayah penulis membuat setiap bagian rapuh dari diri terasa terkoyak. Pacar penulis kala itu, yang kini menjadi suami, memesan pizza. Beberapa teman lain tiba lebih dulu di apartemen, tetapi mereka membawa bir dan makanan ringan untuk menebus kedatangan mereka yang tidak diumumkan. Tawa memenuhi lorong. Diego mengajak penulis bergabung dengannya di sofa sambil menyerahkan kontroler. Semuanya akan baik-baik saja.

